Jumat, 03 Februari 2017

PENGINGKARAN KEWAJIBAN

Hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan keduanya saling berkaita. Kewajiban merupakan sesuatu yang harus dilakukan dengan tanggung jawab. Sedangkan hak adalah sesuatu yang mutlak yang menjadi milik kita sendiri yang penggunaannya tergantung kita. Untuk mendapatkan hak, kita harus melaksanakan kewajiban terlebih dahulu. Tanpa melaksanakannya kita tidak akan menerima hak. Tetapi pada saat ini orang-orang banyak yang lebih mengesampingkan kewajiban dengantanda kutip mereka melupakan kewajiban mereka. Banyak dari mereka yang tidak ingin atau malas melakukan kewajiban tapi ingin mendapatkan hak.
Kerjanya jelek namun ingin mendapat upah yang banyak. Harusnya upah yang banyak itu harus diimbangi dengan kerja yang bagus. Jika diulas satu per satu masih banyak pelanggaran kewajiban yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.


Tidak hanya mereka, saya pun pernah melanggar kewajiban saya sendiri.

Sebagai pengendara sepeda motor, saya pernah(bukan pernah lagi tapi sering namun tidak terlalu sering) melanggar tata tertib lalu lintas. Misalnya, saya berkendara di jalan raya padahal saya belum punya SIM, pernah menerobos lampu merah dan sedikit ngebut di jalan karena terburu-buru ke sekolah, dan juga saya sering tidak membawa STNK karena dompet saya tertinggal di rumah.



Sebagai seorang siswa, saya pernah tidak mengerjakan tugas karena lupa, jajan sebelum waktunya istirahat karena kalau istirahat keburu rame, dan juga saya pernah bermain HP saat guru sedang menjelaskan.




Hasil gambar untuk bermain hp di kelas

Di lingkungan, saya pernah buang sampah permen sembarangan di jalan karena saat itu tempat sampahnya tidak ada.
Hasil gambar untuk siswa buang sampah sembarangan
Sebagai anak, saya pernah tidak mengikuti kata orang tua, tidak ibadah tepat waktu.

Saya sadar semua yang telah saya lakukan itu salah. Maka dari itu, saya berusaha untuk tidak mengulangi hal itu lagi.




Dita Ayu Cahyani - XI fk2

Pesan Moral Dari Film "I NOT STUPID"

 Foto

















Film "I Not Stupid" memberikan banyak pesan moral bagi penonton, terutama mengenai keluarga dan pendidikan. Dikarenakan film ini menampilkan banyak sekali pelanggaran HAM.

Dari sisi keluarga, film ini menyadarkan arti pentingnya sebuah komunikasi dalam keluarga dan pujian bagi seorang anak. Kesibukan orangtua membuat sang anak menjadi jarang berkomunikasi dan bertemu dengan orangtuanya. Alhasil orangtua tidak mengetahui bagaimana perkembangan anak, kemajuan belajar, dan masalah yang sedang dihadapi anak. Memarahi dan memukul anak bukan cara yang efektif mengajari anak, terlebih tanpa memberikan mereka kesempatan untuk berbicara mengenai suatu permasalahan. Oleh karena itu, dengarkan pula pendapat anak. Karena anak-anak pun punya hak untuk mengutarakan pendapat dan di dengar. Pujian dari orangtua kepada anak pun memiliki pengaruh yang besar agar anak merasa diakui bakatnya dan merasa mendapat dukungan positif dari orangtuanya. Film ini juga menampilkan adegan dramatis pengorbanan ayah terhadap anaknya.

Lalu dari sisi pendidikan, film ini menggambarkan realita pendidikan yang sering terjadi. Cara mengajar seorang guru yang terkesan kaku, tidak sesuai dengan kapasitas siswa, serta memberi julukan dengan kata negatif membuat siswa tidak semangat belajar. Pujian dalam lingkungan sekolah juga menjadi hal yang penting. Misalnya ketika seorang siswa yang dianggap malas tetapi dia mengerjakan tugas, seharusnya sang guru memberi apresiasi positif bagi siswa tersebut.

Dalam film ini kita juga diajak untuk melihat sisi baik seseorang, bukan hanya melihat sisi buruknya. Layaknya dua sisi mata uang yang berbeda, dalam diri manusia pun ada dua sisi, yang gelap maupun terang, baik maupun buruk. Namun, seringkali tanpa sadar kita memandang seseorang hanya dari sisi buruknya, mengabaikan sisi positif yang ada.

Dari film ini kita bisa belajar banyak hal mengenai arti penting sebuah keluarga, mengenai komunikasi, pujian, serta pengorbanan.

Pesan moral dari film ini tidak hanya berlaku untuk hubungan orang tua dan anak saja, tapi juga hubungan adik-kakak, bahkan dalam berinteraksi dalam kehidupan sosial. Dengarkan orang lain karena semua orang ingin didengar. lalu hargai cerita yang sudah didengar dengan memberi masukan/saran dengan cara yang santun dan tidak menyakiti.




Dita Ayu Cahyani - XI fk2